hingga detik ini langit masih baik-baik saja angin tetap berhembus, ikan tetap berenang tiada yang berubah dan tiada yang berubah polanya aku menikmati cuaca sembari menyiram kembang aku tetap menikmati dalam pusara keindahan yang sudah fana dan kamu sudah melangkah menjadi jelas dalam dekapan yang baru aku terseok-seok terhantam pasca inggris menaika tarif harga kamu sudah teguh bersama china dengan congkak dan belagu ku kira hanya sekedar hujan lebat sementara yang aku telan telah habis diperhitungan hijriah sebelumnya ternyata masih ada badai peluru dan hujan bom yang aku dera semenjak aku salah turun dari kereta yang sudah 5 warsa beriringan semuanya lumer satu persatu tanpa perlawanan sedari kalbu yang renta raga yang lunglai ekonomi yang merah semuanya terbakar dan terurai dan menjadi abu sepi di peron yang sama saat aku turun dari kereta itu aku siapkan meja, kursi, kembang, tembang, lambang, agar indah dan nyaman aku bersenandung, menjaga aromanya m...
Aku akan mencintaimu dengan sangat tenang, tanpa tergesa-gesa, Seperti bulan yang letih, melangkah perlahan melintasi waktu, Tanpa ragu, hanya ada bisik keheningan dan senandung kesunyian. Aku akan mencintaimu seperti doa malam yang dilantunkan penuh harap, Dari seorang ibu untuk anaknya—ikhlas, damai, dan pasrah. Aku tahu, segalanya telah usai. Kita telah berakhir, dan kamu kini berlabuh di pelukan lain. Sementara aku terjebak dalam bayangan indahmu, Sosok yang setia menemani lebih dari lima tahun lamanya. Aku tahu, semua ini karena keegoisanku, Kebodohanku yang mendambakan kebebasan tanpa berpikir. Kini aku sadar, harga kebebasan itu terlalu mahal, Dan aku, dengan gila, berani menukar segalanya untuknya. Harganya adalah kesepian… dan kekosongan. Yang lebih gila lagi, dari semua ini, Adalah perasaan yang justru semakin mencintaimu, Semakin tak mampu melepaskan bayangmu. Melihatmu tumbuh, bermekaran seperti ulat menjadi kupu-kupu indah. Namun kini, aku hanya bisa menatap dari kejauhan,...