Langsung ke konten utama

Postingan

peron yang tak lagi dituju

hingga detik ini langit masih baik-baik saja angin tetap berhembus, ikan tetap berenang  tiada yang berubah dan tiada yang berubah polanya aku menikmati cuaca sembari menyiram kembang aku tetap menikmati dalam pusara keindahan yang sudah fana dan kamu sudah melangkah menjadi jelas dalam dekapan yang baru aku terseok-seok terhantam pasca inggris menaika tarif harga kamu sudah teguh bersama china dengan congkak dan belagu ku kira hanya sekedar hujan lebat sementara  yang aku telan telah habis diperhitungan hijriah sebelumnya  ternyata masih ada badai peluru dan hujan bom yang aku dera semenjak aku salah turun dari kereta yang sudah 5 warsa beriringan semuanya lumer satu persatu tanpa perlawanan  sedari kalbu yang renta raga yang lunglai ekonomi yang merah semuanya terbakar dan terurai dan menjadi abu sepi  di peron yang sama saat aku turun dari kereta itu aku siapkan meja, kursi, kembang, tembang, lambang, agar indah dan nyaman aku bersenandung, menjaga aromanya m...
Postingan terbaru

Ode Penyesalan

Aku akan mencintaimu dengan sangat tenang, tanpa tergesa-gesa, Seperti bulan yang letih, melangkah perlahan melintasi waktu, Tanpa ragu, hanya ada bisik keheningan dan senandung kesunyian. Aku akan mencintaimu seperti doa malam yang dilantunkan penuh harap, Dari seorang ibu untuk anaknya—ikhlas, damai, dan pasrah. Aku tahu, segalanya telah usai. Kita telah berakhir, dan kamu kini berlabuh di pelukan lain. Sementara aku terjebak dalam bayangan indahmu, Sosok yang setia menemani lebih dari lima tahun lamanya. Aku tahu, semua ini karena keegoisanku, Kebodohanku yang mendambakan kebebasan tanpa berpikir. Kini aku sadar, harga kebebasan itu terlalu mahal, Dan aku, dengan gila, berani menukar segalanya untuknya. Harganya adalah kesepian… dan kekosongan. Yang lebih gila lagi, dari semua ini, Adalah perasaan yang justru semakin mencintaimu, Semakin tak mampu melepaskan bayangmu. Melihatmu tumbuh, bermekaran seperti ulat menjadi kupu-kupu indah. Namun kini, aku hanya bisa menatap dari kejauhan,...

realita beragama

Aku bingung, aku yang terlalu liar atau aku yang tidak memahami. Aku tenggelam dalam lingkungan yang 180 derajat   berbeda dengan duniaku yang lalu-lalu. Semesta punya jalan sendiri dalam membuat makhluknya terperangah.   Aku tidak terlau percaya dengan agama. Ditinjau dari ceramah-ceramah yang aku dengar dan perilaku para penganutnya membuatku muak. Agama yag dipaksakan di tanam dalam benakku sedari kecil ialah horornya neraka dengan segala penyiksaan yang akan aku derita ketika aku melakukan dosa. Indahnya surga yang di isi dengan sungai-sungai susu, burung-burung berkicau merdu, hamparan padang rumput yang memanjakan mata yang dapat aku peroleh dari mengoleksi pahala. Itu-itu saja yang di doktrinkan dalam pikiranku sedari kecil. Membayangkannyapun sampai sekarang   membuat buluku bergidik bagaimana seramnya   neraka. Beranjak besar aku melihat realita-relita aneh bin ajaib. Bagaimana mungkin seorang manusia yang mengaku beragama tetapi suka mengkafirkan orang ...

Hoaks dalam islam

Iklim politik di Indonesia saat ini mengganggu kenyamananku. Ter - iris hati ini melihat sesama saudara saling cekcok, tidak tegur sapa, memutus silaturahmi, fanatisme/taklid buta, pada makam pun intolerans . Lebih parah dari itu, merasa diri seolah seperti “Tuhan , d engan mudahnya menjustifikasi orang lain yang tidak se-agama sebagai seorang “ K afir” . S atu agama berbeda pilihan politik dianggap “antek aseng” dan atau “jaminan neraka” , seakan–akan ialah si penyambung lidah Tuhan. Begitu mudahnya kata–kata tak pantas itu diobral. Padahal, s eperti yang dikatakan cak nun , bahwa " hak untuk menilai seseorang muslim atau bukan adalah hak prerogeratif Tuhan” . Perilaku tersebut dapat terjadi karena kesalahan dalam menyikapi infomasi. Banyaknya informasi yang diterima , namun tidak diimbangi dengan kesiapan pola piker. Se rta k urangnya keinginan untuk menelusuri sumber informasi tersebut, apakah valid atau hanya sebuah prasangka ( HOAKS ) I slam memberi seruan kep...

menulis itu sulit

menulis itu sulit bagaimana bisa aku menulis  tapi hati dan pikiran tidak selaras bagaimana bisa hatiku mati dan otakku pergi menulis itu sulit bagaimana bisa menguras alam bawah sadar tanpa mengingat masa lalu menyakitkan bagaimana bisa membingkai sebuah kesakitan hanya untuk hiburan imaji mereka menulis itu sulit bagaimana bia menulis tanpa kedisiplinan tapi jadwal tidur saja tidak bisa disiplin bagaimana bisa menulis hanyut dalam imaji tanpa menyadari peliknya kehidupan  menulis itu sulit bagaimana bisa menjadi penulis hebat jika masa depannya tidak cerah bagaimana bisa menulis tanpa distraksi tapi aura sekitar distraksi terbesar menulis itu sulit bagaimana bisa menulis hanya memuja senja hanya  pagi menyuguhkan keluguan bagaimana bisa menulis jika mati rasa tapi akal ingin selalu menjelajah menulis itu sulit menulis itu sulit akan selalu menjadi sulit  menulis hanya untuk dia yang ingin hidup kekal...

Perubahan

Termangu di sudut bangku Terhempas akal sehatnya Seperti membuka lembar baru Dalam lembar-lembar fana Strukturmu menguap dalam hitungan detik Seperti rokok dimakan bara api Mereka sudah menjelajah antartika Kau masih sibuk mencari sepi Tolong! berikan dia waktu sesaat Untuk bersiap menghadapi badai-badai Agar akar-akarnya mengikat kuat Tanpa harus putar balik dan lari Pasti! akan dikayuhnya perahu itu Dengan segala upaya tanpa harus malu Hingga layar robek dan lusuh Hinga geladak di sumpal batu Pasti akan di lampauinya.... -Berayen  8 oktober 2018

tolong

Jika depresi tertinggi ialah mati rasa Tak Ada sedih,Tak Ada tawa Hidup untuk makan dan tidur Terperangkap di tubuh tanpa arti Tolong... Berikan aku cahaya Walau hanya percikan api Yang biasa menyulut rokokmu itu Aku tak mau terjerembab dalam jurang Yang setanpun lari Tolong... Ajari aku seni mencintai Aku muak hanya mengagumi Aku tidak romantis Tapi,aku janji hidupmu akan manis Jangan ragu, Tunggu apa lagi Lemparkan talimu Jangan sampai bunga itu layu Dan,Tak Ada lagi Y ang kuberikan padamu -berayen