Aku akan mencintaimu dengan sangat tenang, tanpa tergesa-gesa,
Seperti bulan yang letih, melangkah perlahan melintasi waktu,
Tanpa ragu, hanya ada bisik keheningan dan senandung kesunyian.
Aku akan mencintaimu seperti doa malam yang dilantunkan penuh harap,
Dari seorang ibu untuk anaknya—ikhlas, damai, dan pasrah.
Aku tahu, segalanya telah usai.
Kita telah berakhir, dan kamu kini berlabuh di pelukan lain.
Sementara aku terjebak dalam bayangan indahmu,
Sosok yang setia menemani lebih dari lima tahun lamanya.
Aku tahu, semua ini karena keegoisanku,
Kebodohanku yang mendambakan kebebasan tanpa berpikir.
Kini aku sadar, harga kebebasan itu terlalu mahal,
Dan aku, dengan gila, berani menukar segalanya untuknya.
Harganya adalah kesepian… dan kekosongan.
Yang lebih gila lagi, dari semua ini,
Adalah perasaan yang justru semakin mencintaimu,
Semakin tak mampu melepaskan bayangmu.
Melihatmu tumbuh, bermekaran seperti ulat menjadi kupu-kupu indah.
Namun kini, aku hanya bisa menatap dari kejauhan,
Seolah yang tersisa hanyalah kepompong kenangan.
Aku sadar, akulah yang salah.
Aku yang terlalu tertutup, tak tahu cara mencintaimu sepenuhnya.
Tergagap di antara dua jalan yang saling bertentangan:
Tunduk pada keyakinan yang memenjarakan hatiku,
Atau mengikatmu dengan janji-janji yang tak pernah kuberani ucapkan.
Aku akan mencintaimu dengan tenang, tanpa terburu-buru.
Dengan kesabaran yang tumbuh, hari demi hari.
Entah kapan aku mampu benar-benar melepasmu,
Namun dalam doaku, aku memohon,
Semoga kamu kembali… atau bertemu dengan cinta yang lebih baik dariku.
Karena aku tahu, akulah yang menyia-nyiakan berlian ini,
Semua demi kebebasan yang tak lebih dari ilusi kosong.
Dan kini, aku hanya punya cinta ini,
Sebuah cinta yang sederhana, tenang, namun tetap abadi.
Komentar
Posting Komentar