hingga detik ini langit masih baik-baik saja
angin tetap berhembus, ikan tetap berenang
tiada yang berubah dan tiada yang berubah polanya
aku menikmati cuaca sembari menyiram kembang
aku tetap menikmati dalam pusara keindahan yang sudah fana
dan kamu sudah melangkah menjadi jelas dalam dekapan yang baru
aku terseok-seok terhantam pasca inggris menaika tarif harga
kamu sudah teguh bersama china dengan congkak dan belagu
ku kira hanya sekedar hujan lebat sementara
yang aku telan telah habis diperhitungan hijriah sebelumnya
ternyata masih ada badai peluru dan hujan bom yang aku dera
semenjak aku salah turun dari kereta yang sudah 5 warsa beriringan
semuanya lumer satu persatu tanpa perlawanan
sedari kalbu yang renta
raga yang lunglai
ekonomi yang merah
semuanya terbakar dan terurai dan menjadi abu
sepi di peron yang sama saat aku turun dari kereta itu
aku siapkan meja, kursi, kembang, tembang, lambang, agar indah dan nyaman
aku bersenandung, menjaga aromanya
memesan bakso yang sama
menyiapkan bunga terbaik untuk menyambut kereta itu kembali lagi
aku masih menyiram dan terus menyiram
mengabaikan kereta lain yang datang dalam beberapa bulan terakir
semakin aku menyiram semakin aku terjerembab dalam pusara kereta lama
entahlah mungkin hingga akhir aku tetap menunggu kereta lama menjemputku lagi
hingga aku mendapatkan pengumuman bahwa kereta yang lama tidak akan kembali
sudah dialihkan ke peron lain untuk menjemput penumpang dengan tujuan yang lebih terang
aku akan menunggu di peron ini
peron berkabut di jelaga keheninganku.
Komentar
Posting Komentar