Heelloo,selamat siang, semangat "bekerja terus dan jangan banyak berharap oleh pemerintah" mungkin slogan yang sangat akrab di telinga teman teman kekirian muehehehe.
Oiya di sini gue mau nulis apa yang mau gue tulis,secara ini blog gue dan suka suka gue dongs mau cerita apa,MASBULOH? hehehe
Gue di sini mau cerita apa yang gue alami di tanah borneo atau lebih tepatnya di SAMARINDA dan ingat itu kota berada di KALIMANTAN TIMUR. WWOOYYY..!!! Soalnya pernah gue kontek kontekan sama teman gue di jakarta dan dia mengira samarinda itu di KALIMANTAN TENGAH, "eh bulu ketek naga!! Jauh KALTIM sama KALTENG tuh..
Loh? Loh? Kok out of topic? Oke,di sini gue cerita bagaimana keresahan dan bagaimana gue mendapat tamparan keras oleh kenyataan bahwa di samarinda ini kota yang sangat kritis layak "nenek tua yang telah kena stroke dan sebentar lagi akan terkena serangan jantung" kenapa gue bipang begitu? Karena kenyataan ini sungguh gila! Di mana jalan beda gaya hidup beda penghasilan beda pemikiran, walau kota ini di balut dengan "klub -klub malam" berbaris manja sedang merayu gue untuk datang,dan di balik itu semua di beberapa tempat ada yang sedang memperjuangkan tanahnya,untuk menolak pertambangan batu bara oleh para pengusaha,kenapa gue di sini? Karena gue dapet tugas untuk kerja di sini karena sistem kerja gue adalah mutasian,selama setahun gue di sini gue baru sadar karena bahwa di kota ini lebih banyak konsesi pertambangan daripada untuk pemukiman dan pertanian,kamu tau? Bahwa samarinda 71 % dari kotanya adalah konsesi pertambangan.wow amajinh tetapi di kota selalu mati lampu,bagaimana mungkin kota yang salah satu pengekspor batu bara terbesar tetapi selalu mati lampu di setiap harinya? Yaaa itulah ironi kota ini,,loh? Loh? Ngidul ke mane lagi bos? Ohiyaa maap,gue di sini kerja dan menjual setengah jiwa gue kepada uang jadi gue enggak rela apabila sebagian jiwa gue lagi gue abdikan pada kelakuan apatis khas kota besar,dan akhirnya gue menemukan kelompok yang menurut gue keren dan isinya pemikir dan sejalan dengan visi gue merekalah JATAM(JARINGAN ADVIKASI TAMBANG) yang engga tau itu apa? Searching aja gue males nyeritainnya panjaanngg,intinya dia TOLAK TAMBANG dan ngumngumpullah gue di situ gue mendapatkan ilmu yang mengalir terus layaknya ingus gue kalo lagi pilek wakakaka,sebenarnya kalo tubuh ini bisa berteriak mungkin sudah berteriak karena di paksa kerja kerja dan kerja tanpa pernah istirahat yang cukup.Peduli setan dengan itu,karena aku sadar perubahan tidak di mulai dari tempat tidur apabila dari tempat tidur mungkin hanya tempat pembuahan bibit bibit perubahan hehehehe,jadi di saat siang aku bekerja dan malam berdiskusi,bagaimana nasib kota ini akan dibawa,walaupun aku bukan asli sini tetapi aku pernah mendengar kata pepatah "di mana bumi di pijak di situlah langit di junjung" walaupun aku di sini belum makan bangku perkuliahan yang selalu aku impi impikan tetapi dia tidak pernah menganggap remeh gue,karena kalo ada yang nganggep remeh gue,pasti itu akan gue hajar hehehehe,enggak kok bohong hehehehe,banyak ide muncul di saat setengah sadar untuk terus melawan para pengusaha yang hanya memikirkan perutnya sendiri.dari perbincangan agama hingga tradisi di setiap daerah dan kampung halamannya masing masing hingga bagaimana datangnya lokalolisasi hadir di kehidupan warga hehehehe
Udah dulu yaaa nanti gue ceritain lagi deh lebih detilnya soalnya sekarang gue laper dan lupa apalagi yang mau di bahas heheheh,oiyaaa maap maap kalo banyak typonya soalnya gue nulisnya dari hape heheheh,klalo katatemen gue inisialnya "ria" dan nama aslinya "R" hehehe "menulis bisa di mana saja dan media apa saja
,jangan banyak alasan dan menulislah!!
Oiya di sini gue mau nulis apa yang mau gue tulis,secara ini blog gue dan suka suka gue dongs mau cerita apa,MASBULOH? hehehe
Gue di sini mau cerita apa yang gue alami di tanah borneo atau lebih tepatnya di SAMARINDA dan ingat itu kota berada di KALIMANTAN TIMUR. WWOOYYY..!!! Soalnya pernah gue kontek kontekan sama teman gue di jakarta dan dia mengira samarinda itu di KALIMANTAN TENGAH, "eh bulu ketek naga!! Jauh KALTIM sama KALTENG tuh..
Loh? Loh? Kok out of topic? Oke,di sini gue cerita bagaimana keresahan dan bagaimana gue mendapat tamparan keras oleh kenyataan bahwa di samarinda ini kota yang sangat kritis layak "nenek tua yang telah kena stroke dan sebentar lagi akan terkena serangan jantung" kenapa gue bipang begitu? Karena kenyataan ini sungguh gila! Di mana jalan beda gaya hidup beda penghasilan beda pemikiran, walau kota ini di balut dengan "klub -klub malam" berbaris manja sedang merayu gue untuk datang,dan di balik itu semua di beberapa tempat ada yang sedang memperjuangkan tanahnya,untuk menolak pertambangan batu bara oleh para pengusaha,kenapa gue di sini? Karena gue dapet tugas untuk kerja di sini karena sistem kerja gue adalah mutasian,selama setahun gue di sini gue baru sadar karena bahwa di kota ini lebih banyak konsesi pertambangan daripada untuk pemukiman dan pertanian,kamu tau? Bahwa samarinda 71 % dari kotanya adalah konsesi pertambangan.wow amajinh tetapi di kota selalu mati lampu,bagaimana mungkin kota yang salah satu pengekspor batu bara terbesar tetapi selalu mati lampu di setiap harinya? Yaaa itulah ironi kota ini,,loh? Loh? Ngidul ke mane lagi bos? Ohiyaa maap,gue di sini kerja dan menjual setengah jiwa gue kepada uang jadi gue enggak rela apabila sebagian jiwa gue lagi gue abdikan pada kelakuan apatis khas kota besar,dan akhirnya gue menemukan kelompok yang menurut gue keren dan isinya pemikir dan sejalan dengan visi gue merekalah JATAM(JARINGAN ADVIKASI TAMBANG) yang engga tau itu apa? Searching aja gue males nyeritainnya panjaanngg,intinya dia TOLAK TAMBANG dan ngumngumpullah gue di situ gue mendapatkan ilmu yang mengalir terus layaknya ingus gue kalo lagi pilek wakakaka,sebenarnya kalo tubuh ini bisa berteriak mungkin sudah berteriak karena di paksa kerja kerja dan kerja tanpa pernah istirahat yang cukup.Peduli setan dengan itu,karena aku sadar perubahan tidak di mulai dari tempat tidur apabila dari tempat tidur mungkin hanya tempat pembuahan bibit bibit perubahan hehehehe,jadi di saat siang aku bekerja dan malam berdiskusi,bagaimana nasib kota ini akan dibawa,walaupun aku bukan asli sini tetapi aku pernah mendengar kata pepatah "di mana bumi di pijak di situlah langit di junjung" walaupun aku di sini belum makan bangku perkuliahan yang selalu aku impi impikan tetapi dia tidak pernah menganggap remeh gue,karena kalo ada yang nganggep remeh gue,pasti itu akan gue hajar hehehehe,enggak kok bohong hehehehe,banyak ide muncul di saat setengah sadar untuk terus melawan para pengusaha yang hanya memikirkan perutnya sendiri.dari perbincangan agama hingga tradisi di setiap daerah dan kampung halamannya masing masing hingga bagaimana datangnya lokalolisasi hadir di kehidupan warga hehehehe
Udah dulu yaaa nanti gue ceritain lagi deh lebih detilnya soalnya sekarang gue laper dan lupa apalagi yang mau di bahas heheheh,oiyaaa maap maap kalo banyak typonya soalnya gue nulisnya dari hape heheheh,klalo katatemen gue inisialnya "ria" dan nama aslinya "R" hehehe "menulis bisa di mana saja dan media apa saja
,jangan banyak alasan dan menulislah!!

Komentar
Posting Komentar